Pakai warna dan motif dari daun, Batik Ecoprint tembus pasar ekspor

rahayu-budiadi-pengusaha-batik-220221.jpg

Cakra.TV, Kota Metro – Benda apa saja bila berada di tangan-tangan kreatif bisa dijadikan sebuah karya bernilai, termasuk dedaunan sekali pun. Seperti yang dilakukan Rahayu Budiadi (50) warga Kelurahan Banjarsari, Kecamatan Utara yang menggunakan daun untuk membatik.

Teknik membatik itu dinamakan ecoprint, yaitu memindahkan warna daun ke bahan kain, sekaligus menjadikan daun tersebut sebagai motif batik.

“Saya lumayan lama membuat batik ecoprint. Bahan-bahan yang didapat untuk membuat batik ini juga cukup mudah untuk didapat,” kata dia, Sabtu (20/2).

Ia menjelaskan, bahan-bahan yang ia gunakan untuk membuat batik ecoprint yaitu getah gambir, jengkol, kapur, tunjung, soda, tawas, tini, dan secang.

Untuk motif daun bati ecoprint, Rahayu mengunakan daun pakis, daun jarak, daun ketapang, dan daun jati. Khusus daun jati,.harus menggunakan daun yang masih segar.

“Kapur, tawas, dan soda digunakan untuk membuat warna semakin timbul atau proses penguncian warna dan fiksasi. Jika ingin mendapatkan warna merah maka mengunakan getah gambir, dan warna hitam maka getah gambir dicampurkan dengan tunjung,” jelasnya.

Batik ecoprint yang ia buat, bahkan sudah menembus pasar luar negeri. Dirinya sudah beberapa kali mengirim batik ecoprint buatanya ke Amerika Serikat melalui rekanya asal Kota Surakarta.

“Sebenarnya ini tidak sengaja, awalnya saya coba-coba nitip ke rekan saya yang berkerja di benua Amerika. Ternyata mereka minta dikirimkan 10 lembar sekaligus. Meski harga kain Ecoprint dari bahan katun Rp.350.000 – Rp.500.000 per lembar, saya pikir bolehlah untuk perkenalan,” paparnya.

Lantaran produknya diminati orang luar negeri, Rahayu Budiadi semakin bersemangat untuk terus berinovasi dalam pewarnaan alam dan motif dengan harapan dapat menembus beberapa negara Eropa, yang saat ini sedang gandrung produk handmade dan alami.

“Iya saat ini saya sedang mencoba membuat batik tulis, ciprat dan shibori,” terangnya.

Untuk penjualan, lanjut Rahayu, ia lakukan secara online maupun offline. Untuk yang secara ingin mendapatkan batik ecoprint bisa langsung datang ke rumahnya di Jalan Dewi Sartika nomor 50, Banjarsari, Metro Utara.

Dalam satu bulan setidaknya, ia meraup omset sekitar Rp.2 juta sampai Rp. 10 juta. Namun, saat pandemi Covid-19 ini ia mengalami penurunan pendapatan yang cukup banyak. Dimana saat ini dirinya hanya bisa mendapat Rp.1 juta sampai Rp.3 juta.

Dirinya berharap dengan upaya marketing yang lebih masif dapat memperlebar usahanya yang awalnya menggunakan modal sebesar Rp.5 juta.

“Harapannya bisa berkerja sama dengan pemerintah khususnya dibidang Pariwisata, Ekonomi dan Perindustrian serta diikut sertakan pameran diluar daerah,” tutupnya.

Liputan Arie Cen, kontributor Cakra.TV

Tinggalkan Komentar Anda

scroll to top