Cerita Anak putus sekolah di Kota Metro karena keterbatasan biaya

IMG-20200305-WA0014.jpg

CTV, Metro – Program pemerintah di bidang pendidikan rupanya belum menyentuh semua anak. Buktinya, seorang gadis remaja di Kota Metro, Riski Amelia (14) harus putus sekolah karena alasan biaya.

Rizki Salah satu anak dari keluarga miskin di RT.14 RW.03 Kelurahan Hadimulyo barat ,Kecamatan metro pusat,Kota Metro.

Sudah dua tahun sejak menginjak kelas satu smp, bocah ini tidak bisa melanjutkan sekolah meski sebenarnya memiliki semangat belajar yang tinggi.

Didatangi rumahnya Rabu (4/3/2020), anak yang berpostur badan besar ini sempat menangis saat mengungkapkan keinginannya untuk bisa tetap bersekolah.

Rizki yang sebelumnya sekolah di salah satu sekolah di Margorejo Metro Selatan, harus terhenti di kelas 1(satu) SMP pada tahun 2018 di usia 12 tahun.

Putus sekolah di bangku SMP ,harapan Rizki Amalia yang bercita-cita ingin menjadi Guru sirna lantaran tidak ada biaya padahal pihak sekolah sudah menggratiskan biaya administrasi.

Dalam kesehariannya, Rizki Amalia ikut dengan neneknya Kasidem (90) yang berjualan nasi urap. Hal ini ia jalani mulai jam dua malam hingga terbit fajar, di waktu siang ia pun harus membantu mencuci pakaian serta menjaga pamannya yang mengalami penyakit stroke.

Rizki mengaku ingin sekali dapat kembali bersekolah demi mencapai cita citanya menjadi seorang guru. Namun apa daya keterbatasan biaya serta keadaan yang memprihatinkan harus ia relakan impiannya tersebut.

“Umurku sekarang 14 tahun di bulan Mei 2020 nanti genap 15 tahun. Biasanya kalo di rumah bantu Mbah, nyiapin dagangan nasi urap, Dulu aku sekolah di Mts Iklas Beramal tapi berenti di kelas 1 karena gak punya biaya dan transportasi menuju ke sekolah jauh jaraknya,”imbuhnya.

Setiap kali melihat anak-anak seusianya berangkat atau pulang sekolah, Rizki mengaku sering menangis sendiri.

“Saya ingin seperti mereka bisa sekolah lagi,” katanya lirih.

Kasidem mengaku sangat sedih melihat cucunya tidak bisa bersekolah. Menurutnya, tidak mungkin penghasilan sebagai pedagang bisa mencukupi biaya sekolah.

“Kalau saya punya barang berharga pasti sudah saya jual untuk menyekolahkan cucu saya dan belikan sepeda,” ucap kasidem terbata bata sambil mengusap air matanya.

Liputan Habib Reporter Cakra

Tinggalkan Komentar Anda

scroll to top