Seleksi Pencak Silat Lamteng diduga diwarnai nepotisme

seleksi-sirkuit-pencak-silat-lampung-tengah.jpg

Cakra.TV, Lampung Tengah – Dunia olahraga khususnya di cabang pencak silat tengah berduka. Pasalnya Seleksi Sirkuit Pencak Silat Lampung Tengah yang merupakan ajang seleksi Pra PON 2022, diduga dibumbui dengan permainan tidak sehat. Salah satu indikatornya adalah adanya atlet yang didiskualifikasi saat seleksi, namun namanya muncul kembali di ajang seleksi Pra PON untuk zona 2. Bahkan kuat dugaan ada permainan pemalsuan data diri dari atlet yang berlaga.

Hal itu disampaikan oleh pelatih TTKKDH Lampung Tengah Devi Oktaviansyah. Salah satu atletnya yakni Ahmad Rasit Saputra yang merupakan putra asli Lampung Tengah, merupakan juara dua dalam seleksi tersebut. Ahmad kalah dari Galih Dwi Prastyo di final. Belakangan, nama Galih didiskualifikasi lantaran peserta seleksi melihat ada ketidakbenaran dengan data diri Galih. Sehingga akhirnya nama Ahmad yang akan dikirim dalam seleksi Zona 2 di Metro pada 5 April ini mewakili Lampung Tengah.

“Tapi hari ini tiba-tiba dikabari, nama-nama yang keluar yang akan mengikuti seleksi Zona 2 lain lagi. Ahmad tidak masuk, kelas E justru diwakili oleh Yasri Rizki F. Saya konfirmasi ke Ketua IPSI Lamteng Jumali, ternyata sama orangnya yang didiskualifikasi itu. Pas tanding namanya Galih, pas dikirim namanya Yasri. Saya tidak terima, karena kok kayak main-main begini. Saya gak sanggup ngomongnya ke atlet, terbayang kesedihan keluarga dan atlet yang dipermainkan begini. Terakhir saya cek, ternyata itu orang luar Lampung. Seperti dipaksakan, bagaimana atlet daerah mau maju, mau semangat berlatih kalau dipermainkan begini. Kalah menang itu biasa dalam pertandingan, tapi jangan dipermainkan begini,” ujar Devi ketika dikonfirmasi, Jumat (02/04/2021).

Yang lebih menyedihkannya lagi, Ahmad yang merupakan putra asli dari Lampung, sempat mengalami robek di sela jarinya saat seleksi dan mendapatkan empat jahitan. Namun karena semangat membara, tetap lanjut bertanding sampai habis. “Karena saat berlatih, kami optimis dan menggebu semangat anak-anak untuk mengikuti seleksi ini. Karena bagaimana pun juga, mimpi semua atlet untuk dapat berlaga di level nasional. Jangankan nasional, bisa bertanding di level kabupaten dan provinsi saja sudah sebuah kebanggaan, apalagi level nasional. Memang ini yang kita harap-harapkan. Tapi tiba-tiba ada dugaan kecurangan seperti ini,” ucapnya.

Tidak hanya itu saja, ada satu lagi atlet yang didiskualifikasi saat selesksi namun tetap dimasukkan untuk ikut seleksi Zona 2. Usut punya usut, diketahui bahwa itu adalah anak Ketua IPSI Lamteng Jumali. “Ada di Kelas E atas nama Putra R, itu saat seleksi di kemarin didiskualifikasi karena kelebihan berat badan. Ikut seleksi saja tidak, tapi tiba-tiba namanya muncul ikut seleksi Zona 2. Saya gak tahu, gimana atlet yang juara 1 saat seleksi kemarin, apakah menerima apa tidak. Yang jelas yang saya tahu, final kelas E mempertemukan antara Irvan Maulana dan Ananda Krisdian, tiba-tiba yang dikirim seleksi Zona 2, justru atas nama Putra R. Jadi sebenarnya apa guna seleksi itu? Kok jadi pemenang tetap gak dikirim, yang didiskualifikasi malah dikirim. Gak paham saya, yang jelas kami kecewa,” jelas Devi.

Dihubungi terpisah, Ketua IPSI Lamteng Jumali menjawab seakan aturan dibuat sendiri dan dilanggarpun sendiri, “Dipencak silat ada aturan sendiri, timbangan nya hanya lewat satu ons, seleksi itu hanya sarana untuk melihat atelit baru dan yang akan dipilih itu belum tentu juara, seleksi tersebut juga tidak menentukan siapa saya yang akan dikirim ke PON,” alas an Jumali.

Selain itu, jumali juga mengatakan dengan ringan, “Sebenarnya kita bisa aja gak seleksi dan ditunjuk berdasarkan kemampuan di event sebelumnya. Kita berharap ada atlet baru yang bisa masuk. Itu banyak pertimbangan ada seleksi dan tidak seleksi,” ujar Jumali.

Saat ditanya adanya pemalsuan dokumen negara terkait atlet yang terkesan dipaksakan masuk, Jumali mengaku sudah koordinasi dengan provinsi. Menurutnya, atlet luar provinsi diperbolehkan mengikuti seleksi. “Ya itulah kita cari atlet jaring atlet sebanyak-banyaknya kalau memang ada yang layak apa salahnya,” jawab Jumali tanpa merinci terkait pemalsuan dokumen negara saat seleksi atlet di Nuwo Balak beberapa waktu lalu itu.

Untuk diketahui, PON 2022 rencananya akan digelar di dua provinsi yakni Aceh dan Sumatera Utara. Saat ini, proses seleksi Pra Pon tengah berlangsung di Lampung khususnya untuk atlet silat. (*)

Tinggalkan Komentar Anda

scroll to top